Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

3 Penghalang dalam Meraih Harapan

penghalang meraih harapan

Semua orang pasti memiliki harapan dalam hidupnya. Siapa coba orang yang masih hidup tapi tidak punya harapan? Bahkan orang yang tidak ingin berharap juga merupakan sebuah harapan. Harapan itu diperlukan dalam hidup supaya kamu memiliki gairah dalam menjalani hidup. Coba saja kalau misalnya orang tidak memiliki harapan, orang tersebut akan kehilangan arah dan motivasi dalam hidupnya.

Untuk mencapai harapan dibutuhkan 3 komponen penting yaitu goals (tujuan), pathway (jalan), dan yang terakhir yaitu agency (bisa disebut pelakunya).

Ketiga komponen tersebut harus dipenuhi apabila ingin mendapatkan harapan. Jadi, harapan itu harus memiliki goals atau tujuan yang jelas. Tujuan yang dimaksud yaitu apa yang ingin kita capai. Lalu jalan untuk kesana harus bagaimana. Kemudian siapa yang akan mencapainya itu perlu dipikirkan. Kalau tidak ada tujuan dan tidak tahu jalannya itu namanya bukan harapan, melainkan hanya sebuah khayalan atau lamunan.

Misalnya kamu membayangkan tiba-tiba ada uang sekarung jatuh di depanmu, itu namanya bukan harapan tapi lamunan. Ada lagi, seandainya tiba-tiba ada artis Korea datang kepadamu dan menyatakan I LOVE YOU, itu namanya lamunan. Kenapa itu disebut lamunan? karena tidak ada pathway nya. Jalan yang bisa menghubungkan dirimu dengan tujuan itu tidak ada. Bahasa Korea saja kamu tidak bisa, duit untuk ke Korea juga tidak ada, nonton pertunjukkan di Korea juga nggak punya uang, jadi jalan kesananya tidak ada. Sehingga itu disebutnya hanya angan-angan.

Untuk bisa disebut harapan itu harus ada jalannya, ada strategi menuju kesana, ada goalnya, ada tujuannya, dan orangnya juga mau. Kalau ada tujuan dan jalannya, tapi tidak ada orangnya ya sama saja bohong. Hanya akan menjadi cerita kalau misalnya tidak ada orang yang mau mewujudkannya kesana. Jadi, ketiga itulah komponen untuk meraih harapan.

Penghalang Meraih Harapan

Untuk mewujudkan harapan yang kita miliki tentunya tidak mudah. Ada sebuah penghalang yang harus diatasi. Penghalang untuk meraih harapan juga ada tiga, yang pertama emosi, yang kedua stressor dan yang ketiga surprise event. 

Emosi

Emosi pastinya jelas akan menghalangi dalam mewujudkan harapan. Emosi itu kecenderungannya kearah yang negatif. Misalnya, karena emosi kamu jadi terburu-buru, males, minder, atau bahkan terlalu percaya diri itu juga tidak baik. Emosi-emosi semacam itu yang bisa menjadi penghalang sebuah harapan.

Contohnya, cita-citamu ingin segera mendapat pasangan tapi kamunya minder, ya tidak bakal dapat. Kalau tidak ada orangnya, postingannya tentang perempuan, cinta dan pasangan. Begitu ketemu langsung grogi dan deg-degan yang membuatmu tidak bisa ngomong. Itulah contoh emosi yang menghalangimu.

Stressor

Stressor ini merupakan penyebab stres yang nanti akan berpengaruh terhadap emosi. Stressor akan menekan sehingga tidak bisa mewujudkan harapan. Seperti misalnya kamu pengen cepet lulus tapi kok harus kerja untuk kuliah. Kerja disini bisa menjadi stressor, yang membuatmu stress. Ingin menjadi orang sholeh tapi kok susah mau mengaji. Ngaji dalam konteks tersebut menjadi sebuah stressor.

Suprise Event

Surprise event ini merupakan sebuah penghalang harapan yang ketiga. Kita pasti tahu bahwa ada kejadian-kejadian tak terduga yang diluar kendali kita. Misalnya kamu sudah berniat pokoknya tidak pacar-pacaran hingga lulus S2, tiba-tiba ditengah perjalanan ada sebuah kejadian yang membuatmu jatuh cinta dengan seseorang. Kemudian bimbang harus mempertahankan prinsipnya atau tidak. Akhirnya harapanmu untuk tidak pacaran hingga lulus tidak jadi terwujud. Itulah namanya surprise event, tidak ada yang tahu.

Contohnya lagi misalnya kamu ingin mendapatkan IPK sempurna setiap semesternya, tapi ternyata semester ini kamu mengalami sakit berat yang membuat tidak bisa mendapatkan IPK sempurna.

Kemudian misalnya kamu mau berangkat kuliah pagi-pagi, tiba-tiba waktu naik bis, bisnya mogok. Bis yang tiba-tiba mogok itu merupakan sebuah surprise event. 


Tidak ada yang tahu peristiwa apa yang akan terjadi kedepannya. Hidup itu memang tidak semulus rencana kita. Kita inginnya kesana, ternyata ada surprise event yang membelokkan arah kita. Kamu nembak dia malah yang kena temennya. Itukan juga termasuk surprise event, yang menghalangi harapan. 

Paling mudah mengilustrasikan dengan kamu waktu masih kecil dulu, waktu ditanya cita-citanya apa. Misalnya ada yang ingin jadi dokter, jadi pilot, jadi guru dan lain-lain. Itu harapanmu dulu sebelum melewati peristiwa bermacam-macam. Hingga sekarang kamu tidak bisa jawab lagi pengennya jadi apa. Masak masih pingin menjadi dokter? padahal kuliahnya sekarang saja di jurusan teknik. Pastinya tidak bisa, peristiwanya sudah terlewat.

Ketiga faktor itulah yang menjadi bagian dari proses yang namanya lost hope atau hilangnya harapan. Pada saat harapanmu masih penuh, itu dinamakan motivated. Lalu muncul halangan, muncul hambatan-hambatan dari emosimu, stressor dan surprise event sampai kamu sadar ternyata susah untuk mewujudkan harapan tersebut.

Apabila seseorang telah sampai pada fase hilang harapan, selanjutnya akan menuju ke fase rage atau kemarahan. Misalnya, aku kok tidak lulus tepat waktu, aku kok jomblo terus, yang membuat rasa marah tumbuh. 

Kemarahan ini kalau terus-menerus akan melahirkan despair. Dispair ini biasa diartikan dengan putus asa. Disebut despair itu bukan karena tidak percaya dengan tujuannya, tapi tidak percaya dengan dirinya sendiri. Jadi, sebenarnya bukan tujuannya yang tidak tercapai, hanya saja orangnya sendiri yang sudah menyerah.

Jadi, urutan yang pertama lost hope, kemudian turun menjadi rage dan turun lagi menjadi despair. Orang yang frustasi bisa dimasukkan kedalam despair. Awalnya tujuannya tidak kunjung didapatkan, lama-lama tidak yakin kalau dirinya bisa mendapatkannya dan akhirnya menyerah.

Namun, ada lagi fase dibawah despair. Fase tersebut dinamakan apathy. Apathy ini tujuannya sudah hilang dan tidak yakin lagi tujuannya bisa dicapai. Pikirannya dipenuhi dengan ketidakmungkinan.

Jadi, apathy atau apatis ini sudah tidak percaya dengan tujuan dan dirinya sendiri. Contohnya seperti kalimat berikut ini.

Apathy: Tidak mungkin saya menjadi orang sholeh, perilaku saya saja masih seperti ini.

Despair: Saya sebenarnya ingin menjadi orang shaleh, tapi apa mungkin saya bisa.

Rage: Saya ingin menjadi orang sholeh, tapi kok banyak sekali rintangannya.

Motivated: Saya pasti bisa menjadi orang sholeh. mungkin sekarang masih belum, kira-kira 20 tahun lagi bisa.

Itulah perbedaan harapan dari penuh motivasi hingga putus asa. Kalau didalam agama biasanya jangan sampai ke level despair. Jangan sampai putus asa. Hingga kamu tidak percaya bahwa dirimu bisa mencapai tujuan.

Sedangkan apatis itu sudah skeptis dengan tujuannya. Jadi jangan sampai ke level apatis. Bahkan mencapai despair itu sudah menjadi pantangan yang harus dihindari.


sumber: https://cararegistrasi.com/kAZGrJ