Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

6 Pemicu Munculya Kebencian yang Harus Dijauhi

pemicu kebencian

Pemicu kebencian - Sebagai seorang manusia yang hidup berdampingan dengan manusia lainnya, tentunya tidak bisa dihindarkan adanya kompetisi kehidupan. Karena setiap orang butuh berjuang untuk bertahan hidup. Dan terkadang untuk mempertahankan kehidupan itu kita saling membutuhkan satu sama lain.

Penjelasan kebencian

Manusia memiliki emosi dalam dirinya. Salah satu emosi ketidaksukaan terhadap sesuatu bahkan hingga memusuhinya itu biasa disebut kebencian. Kebencian ini lebih condong ke perbuatan negatif.

Dalam hidup, pastinya kita pernah dibenci oleh seseorang atau bahkan justru kita yang membenci seseorang. Kebencian ini harus segera disadari oleh setiap orang. Karena kalau tidak segera disadari, akan menimbulkan akibat yang negatif bagi diri sendiri maupun orang lain.

Kebencian memang tidak terlihat kalau belum terwujud dalam bentuk tindakan. Apabila kebencian dipendam secara terus-menerus, akan menjadi bom waktu yang bisa meledak ketika tiba waktunya.

Untuk itu kita harus mewaspadai supaya kebencian tidak muncul dalam diri kita. Supaya tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Pemicu munculnya kebencian

Sebagai antisipasi pencegahan munculnya rasa kebencian, kita terlebih dahulu mengetahui pemicu timbulnya rasa benci. Setidaknya ada 6 pemicu yang bisa mengakibatkan kebencian. Berikut adalah keenam daftar tersebut.

1. Overgeneralisasi

Melihat sebagian kecil untuk disimpulkan menjadi sebagian besar atau keseluruhan. misalnya ada sepasang kekasih pacaran, kemudian putus karena cowoknya selingkuh. Lalu si cewek menyimpulkan bahwa semua cowok itu sama, suka nyakitin.

Sifat overgeneralisasi bahaya jika dibiarkan terus menerus. Karena dapat dengan mudah melabeli seseorang ketika melakukan satu kesalahan atau kegagalan.

Overgeneralisasi bisa diatasi dengan cara merubah pola pikir. Merubah pola pikir menyimpulkan dengan satu faktor dan tidak memandang orang yang melakukan kesalahan akan mengulanginya terus.

2. Read the thought

Seringkali orang menjadi "sok tau". Merasa bahwa dirinya bisa membaca pikiran. Read the thought atau membaca pikiran bisa memicu timbulnya kebencian. Karena perilaku sok tahu ini bisa membuat orang membuat asumsi sendiri. Padahal asumsi tersebut belum tentu benar dan kadang justru negatif hasilnya.

Kita tidak bisa dengan mudah membaca pikiran orang hanya melihat luarnya. Apalagi dengan orang yang tidak berteman. Bahkan yang berteman juga kadang salah membaca pikirannya. Maka dari itu, jangan membaca pikiran orang lain dengan melihat luarnya saja.

Kecuali kalau kamu adalah seorang pakar mikro ekspresi yang bisa membaca melalui ekspresi seseorang. Jadi, kurang-kurangilah kebiasaan membaca pikiran orang lain. Perbanyak diskusi atau interaksi supaya tahu isi pikirannya. Daripada hanya menebak yang besar kemungkinan salah. Justru nantinya bisa menjadi asumsi negatif dan menimbulkan kebencian.

3. Emotional reasoning

Emotional reasoning yaitu menganggap suatu yang diekspresikan sebagai realitas. Misalnya ketika sedang minum kopi. Kemudian kamu merasa kopinya terlalu pahit. Sehingga menggagap kopi tersebut tidak enak karena terlalu pahit.

Padahal, bisa jadi orang lain yang meminumnya punya kesimpulan yang berbeda mengenai kopi tersebut. Untuk itu, jangan menilai sesuatu berdasarkan perasaan sendiri. Apalagi menjadikan perasaan tersebut menjadi sebuah fakta yang dianggap pasti benar.

4. Customization

customization ini seperti menyimpulkan satu sebab menjadi penyebab secara keseluruhan. Padahal suatu akibat itu bisa terjadi oleh banyak sebab. 

Misalnya ada orang lari terjatuh, lalu menyimpulkan bahwa orang tersebut jatuh karena tersandung kakinya. Padahal bisa jadi orang tersebut terjatuh karena kelelahan berlari sehingga hilang keseimbangan, bisa juga terjatuh karena tergelincir batu, dan banyak hal lainnya. Kita tidak bisa menyimpulkan sebuah permasalahan dari 1 sebab saja. 

Karena begitu mudahnya menyimpulkan suatu hal, gagasan customization seringkali menyederhanakan persoalan dan melahirkan kebencian.

5. Maximization atau Minimization

Membesarkan hal kecil atau mengecilkan hal besar. Ini sering dilakukan banyak orang. Atau bahkan kamu sendiri yang melakukan. Menganggap suatu hal yang sebenarnya penting menjadi tidak penting dan sebaliknya. Banyak konflik yang timbul dari suatu hal yang sepele tapi terlalu dibesar-besarkan. Sehingga menimbulkan kebencian terhadap orang lain.

6. Catasthropic thinking

Hal ini biasa terjadi kepada orang yang sering panik. Hal-hal kecil yang sepele tapi orang tersebut menanggapinya dengan berlebihan karena panik. Contohnya, misalnya ada teman yang wisuda, lalu panik karena dirinya belum wisuda. Kemudian panik karena takut tidak ada teman seangkatan.

Dalam menyikapi segala hal tidak boleh dengan kepanikan. Tetap harus menggunakan pikiran yang tenang. Supaya permasalahan dapat diselesaikan dan tidak menjadi besar. Kepanikan akan memunculkan energi negatif yang bisa merugikan. Keputusan yang diambil pada saat panik sangat tinggi kemungkinan salahnya. Karena tidak bisa menyikapi dengan rasional. Karena kesalahan tersebut dapat memunculkan kebencian dalam diri kita.

Demikianlah 6 hal yang menjadi pemicu munculnya kebencian. Perlu kita tanamkan bahwa kebencian itu tidak baik. Tidak baik terhadap diri sendiri maupun orang. Karena ketika benci terhadap sesuatu, fokus kita hanya pada kejelekan atau keburukannya. Tidak bisa melihat dari sisi positifnya.