Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Analogi Kekayaan dan Kemiskinan dengan Kopi

analogi kekayaan

Sobat patahsemangat.web.id yang berbahagia, pada kesempatan kali ini akan sharing sebuah cerita unik. Cerita sederhana yang bisa membuka pikiran dan sudut pandang kamu.

Cerita ini membahas tentang kekayaan dan kemiskinan yang dibungkus unik. Karena menganalogikannya dengan sebuah kopi. Dari cerita tersebut kita nanti bisa mendapatkan sebuah pesan yang menarik. Oke langsung saja silahkan baca ceritanya dibawah ini:

Cerita Analogi Kekayaan dan Kemiskinan

Ini merupakan percakapan seorang ayah dan anaknya.

Ayah: Tolong buatkan kopi dua gelas untuk kita berdua nak, tapi gulanya jangan engkau tuang dulu, bawa saja ke mari beserta wadahnya.

Anak: Baik, ayah.

Tidak berapa lama, anaknya sudah membawa dua gelas kopi yang masih hangat dan gula di dalam wadahnya beserta sendok kecil.

Ayah: Cobalah kamu rasakan kopimu nak , bagaimana rasa kopimu?

Anak: rasanya sangat pahit sekali ayah.

Ayah: Tuangkanlah sesendok gula, aduklah, bagaimana rasanya?

Anak: Rasa pahitnya sudah mulai berkurang, ayah.

Ayah: Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

Anak: Rasa pahitnya sudah berkurang banyak, ayah.

Ayah: Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

Anak: Rasa manis mulai terasa tapi rasa pahit juga masih sedikit terasa, ayah.

Ayah: Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

Anak: Rasa pahit kopi sudah tidak terasa, yang ada rasa manis, ayah.

Ayah: Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

Anak: sangat manis sekali, ayah.

Ayah: Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

Anak: Terlalu manis. Malah tidak enak, ayah.

Ayah: Tuangkanlah sesendok gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?

Anak: rasa kopinya jadi tidak enak, lebih enak saat ada rasa pahit kopi dan manis gulanya sama-sama terasa, ayah.

Ayah: Ketahuilah nak.. pelajaran yang dapat kita ambil dari contoh ini adalah jika rasa pahit kopi ibarat kemiskinan hidup kita, dan rasa manis gula ibarat kekayaan harta, lalu menurutmu kenikmatan hidup itu sebaiknya seperti apa nak?

Sejenak sang anak termenung, lalu menjawab.

Anak: Ya ayah, sekarang saya mulai mengerti, bahwa kenikmatan hidup dapat kita rasakan, jika kita dapat merasakan hidup secukupnya, tidak melampaui batas. Terimakasih atas pelajaran ini, ayah.

Ayah: Ayo anakku, kopi yg sudah kamu beri gula tadi, campurkan dengan kopi yang belum kamu beri gula, aduklah, lalu tuangkan dalam kedua gelas ini, lalu kita nikmati segelas kopi ini.

Sang anak lalu mengerjakan perintah ayahnya.

Ayah: Bagaimana rasanya?

Anak: rasanya nikmat, ayah.

Ayah: Begitu pula jika engkau memiliki kelebihan harta, akan terasa nikmat bila engkau mau membaginya dengan orang-orang yang kekurangan.

Anak: Terima kasih atas ilustrasinya, ayah.

Kesimpulan

Dari percakapan ayah dan anak tadi kita dapat masukan bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Contohnya kopi tadi yang ditambahkan gula terus-menerus hingga rasanya terlalu manis. Justru membuat kopi tersebut tidak enak.

Begitulah kekayaan yang diibaratkan dengan gula dan kemiskinan yang diibaratkan dengan kopi. Keduanya harus berimbang takarannya supaya kopi bisa enak dinikmati. Kalau hanya kopi saja, akan pahit rasanya. Begitu juga kalau kebanyakan gula akan menghilangkan rasa kopi. Bahkan bisa menjadi sebuah penyakit kalau kebanyakan gula.

Ketika kamu merasa memiliki kekayaan yang lebih, alangkah baiknya untuk berbagi dengan orang lain. Supaya kenikmatan dan keberkahan tetap terjaga. Sehingga kopi yang tadinya kebanyak gula bisa menjadi nikmat lagi setelah berbagi dengan kopi yang lainnya.

Terimakasih sobah patahsemangat.web.id yang telah membaca hingga selesai. Semoga kamu bisa mendapatkan pelajaran dari kisah ayah dan anak tadi.