Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerita Singkat: Belajar dari Bapak-Bapak Pedagang di Depan Sekolah

Belajar dari Bapak-Bapak Pedagang di Depan Sekolah

Bertempat di depan sebuah Sekolah Dasar. Ada 2 bapak paruh baya yang sedang menunggu pulangnya anak-anak sekolah. Kedua tidak sedang menunggu anaknya, melainkan menjual dagangannya.

Aku mengistilahkan dengan bapak A dan bapak B. Si bapak A ini berjualan roti panggang. Sedangkan si bapak B berjualan mainan anak-anak. Sementara aku tidak jauh dari kedua orang tersebut. Aku sedang menunggu pulangnya adik.

Tanpa disengaja, aku mendengar kedua percakapan kedua bapak tersebut. Karena memang jaraknya yang tidak jauh dari tempat aku menunggu. Sehingga percakapannya terdengar. 

Belajar dari Bapak Pedagang di Depan Sekolahan

Kedua bapak tersebut mulai melakukan percakapan. Percakapan diawali oleh si bapak A.

Bapak A: Sudah keliling dimana saja hari ini? 
Bapak B: Halah, di sekolah dekat-dekat sini.
Bapak A: Gimana? terjual banyak?
Bapak B: alhamdulillah, dapat gantinya bensin hari ini.
Bapak A: Ya namanya jualan, kadang ramai, kadang sepi.

Dari situ aku belajar tidak ada kepastian dalam hidup. Apalagi dalam berjualan. Bisa jadi hari ini sepi, bisa jadi besok tambah sepi. Eh, maksutku bisa jadi besok ramai.

Selain itu, kita juga bisa belajar bersyukur dari kisah diatas. Walaupun mendapat penghasilan hanya cukup untuk mengganti bensin motornya, tapi bapak tersebut tidak mengeluh. Satu-satunya yang dikeluhkan pedagang di depan sekolah adalah aturan sekolah. Aturan yang melarang berjualan di depan sekolah, atau larangan siswa untuk membeli di luar lingkungan sekolah.

Kemudian, kita juga bisa belajar kegigihan dari kedua bapak tersebut. Entah mereka berjualan karena passion atau karena keadaan ekonomi, kita tidak ada yang tahu. Kita bisa mengambil kegigihan dalam mencari penghidupan.

Dari situlah aku belajar bahwa istilah "usaha tidak akan mengkhianati hasil" itu tidak sepenuhnya benar. Karena hasil itu bukan kita sendiri yang menentukan, melainkan pemberian Tuhan. Usaha bisa kita kontrol, tapi hasil tidak. Rejeki itu sudah ada yang mengatur, kalau kamu tak kunjung mendapatkannya, berarti kamu yang susah diatur. (kalimat terakhir hanyalah sebuah jokes) 

Baca juga: Filosofi Wortel, Telur, dan Kopi