Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Belajar dari Kiromal Katibin, Atlit Climbing Pemegang Rekor Dunia

Belajar dari Kiromal Katibin

Ada sebuah pelajar yang dapat kita ambil dari salah satu atlit climbing Indonesia yaitu Kiromal Katibin. Pria tersebut menggegerkan media tanah air dan juga dunia. Dia menjadi sorotan setelah berhasil memecahkan rekor dunia dengan sebagai pemanjat tebing tercepat.

Pemecahan rekor dunia tersebut ia raih di kompetisi climbing di Korea. Pada saat itu dirinya berhasil memecahkan rekor dengan waktu 5,17 detik. Kiromal Katibin berhasil memecahkan rekor yang sebelumnya juga dipegang oleh atlit Indonesia yaitu Leonardo Veddriq.

Tidak sampai disitu, Kiromal Katibin juga berhasil menyabet medali emas pada ajang pertandingan Piala Dunia Panjat Tebing 2022 yang dilaksanakan di Amerika Serikat. Dirinya berhasil menjadi yang terbaik dengan mengalahkan atlit dari negara lain. Sungguh prestasi yang membanggakan.

Perjalanan Karir sebagai Atlit

Kiromal Katibin merupakan pria kelahiran Batang, 21 Agusustus 2000. Kiromal Katibin biasa disapa dengan nama kiki. Ia mengenal dunia panjat tebing pada tahun 2007 saat dirinya masih berumur 7 tahun. Baru pada tahun 2009 dirinya mencoba berlatih dan mendalami dunia panjat tebing. Hingga akhirnya kini banyak prestasi yang didapatkannya. Mulai dari tingkat nasional hingga internasional. ia berhasil membawa nama Indonesia ke puncak. Dan kini dia menjadi harapan Indonesia untuk menghadapi kejuaraan dunia dan membanggakan Indonesia.

Pelajaran yang Diambil

Dari kisah Kiromal Katibin kita dapat belajar bahwa untuk menjadi hebat itu dimulai dari sejak dini. berlatih dengan giat dan konsistensi sehingga mampu menjadi atlit muda yang juara dunia. Proses yang dijalani tidak banyak orang yang tahu. Disitulah ujian berat yang harus dihadapi. Melawan rasa bosan untuk berlatih setiap waktu. Tidak ada hasil yang instan. Semua butuh kerja keras dan waktu. Maka dari itu, mulailah dari sekarang menekuni bidang yang diinginkan. Jangan menunda-nunda. Karena ketika kamu menunda, orang lain disana sudah mulai duluan. Dan akhirnya kamu hanya akan menyesalinya.